ZUHRI

ZUHRI

Liat tampang orang ini.

Ini tampang orang yang sering kita liat lagi nongkrong di pinggir jalan sambil main catur, atau lagi markirin motor di pasar sambil ribut dg sesama tukang parkir. Atau tampang tukang ketoprak keliling yg biasa kita makan.

Tampang orang kebanyakan. Tampang orang-orang yg banyak stoknya di kampung saya.

Orang kaya gini, kalo berbincang dengan anda mereka akan menundukan pandangan karena malu atau sungkan. Kalo lewat di depan anda dia akan membungkuk-bungkuk tanpa diminta. Kalau bersalaman akan menarik kembali tangannya ke arah dada mereka, sambil tetap membungkuk.

Ngga pernah ikut training kepribadian, tapi hampir pasti senyum duluan dr jauh ketika berpapasan meskipun andanya manyun. Akan mengalah memberi anda jalan duluan sambil dia melipir ke samping.

Kalau kita tanya arah dia akan menunjukannya dengan jempol daripada dengan telunjuk, apalagi dengan ujung bibir. Mereka terlalu sopan utk melakukannya.

Kalau dia harus antri beli minyak tanah, misalnya, dia akan antri dengan sabar. Dan kalo pas bagian dia minyak tanahnya habis, dia tidak akan komplen berlebihan, sedikit mengeluh tapi tetap pulang sambil cengar-cengir. Besok paginya dia akan datang lagi dan antri lagi dengan sabar.

Tipe rakyat yang ngga pernah nuntut macem-macem. Ngga punya punya prasangka aneh-aneh dan pasrah saja menjalani hidup karena yakin semua sudah ada yg ngatur.

Mereka tahu mereka serba kekurangan dan mereka tahu ada orang yg hidup sangat berkecukupan di luar sana. Mereka juga ingin keluar dari kondisi sulit hidupnya dan merasakan hidup berkecukupan. Tetapi sebagian besarnya hanya menyimpan keinginan itu sebagai mimpi karena mereka tidak tahu bagaimana caranya keluar dr kondisi hidup mereka sekarang.

Sebab sejak mereka mulai mengenal hidup, mereka sangat akrab dengan kata “kurang”. Kata “tambah”, “kali” apalagi “bagi-bagi” cuma ada di pelajaran matematika. Mereka lihat hidup orang tua mereka juga begitu. Kadang-kadang hidup satu kampung mereka juga begitu. “Kurang” adalah referensi utama hidup mereka yang mereka syukuri dan sabari.

Tetapi sebagian kecil dari mereka memberikan nyali terhadap mimpi mereka.

Satu diantaranya Zuhri.

Kekurangan bukanlah kendala. Itu seperti perpisahan sementara. Suatu saat akan kembali dipertemukan.

Seperti ketika dia kehilangan kedua orang tuanya. Tidak lantas membuat hidupnya hancur. Malah menjadi sumber motivasi ketaatannya thd Sang Khalik dan kegigihannya berlatih.

Meski dia tahu bahwa dia tidak punya lagi orang yg bisa diajak berkeluh kesah dalam perjuangan meraih mimpinya. Tidak ada orang yang mengantarnya dan mendoakan ayunan langkah-langkah kaki telanjangnya saat berlatih di pinggir dermaga.

Dia bangun mimpi-mimpinya sendiri, mempersiapkan keperluannya sendiri, berlatih sendiri, terluka sendiri, mengelap luka-lukanya sendiri dan melambungkan mimpi dan doa-doanya sebelum tidur sambil menatapi atap rumahnya yg bolong-bolong itu di malam hari, juga sendiri.

Di Tampere, negeri ribuan kilometer dari kampungnya, dia tidak diperhitungkan. Tetapi dia tidak gentar. Senyumnya tetap malu-malu dan tatapan matanya tetap tatapan mata orang-orang di kampung saya yang banyak dibasuh dengan airmata syukur dan sabar.

Ketika dia akhirnya memenangkan lomba itu, dia tahu dia tidak benar-benar sendiri. Itu makanya dia bersujud. Sang Pemilik hidup — juga pemilik orang tuanya– membersamai anak yatim bertekad baja itu. Selalu dan selamanya

Meski tak ada sorak sorai.

2 Comments

  1. Terima kasih Saudaraku Ali Damanik, telah mendeskripsikan Zuhri yg fenomenal, untaian kalimat yg Sdr nukilkan sangat mewakili perasaan dan pandangan saya dan sebagian masyarakat Indonesia.

    Reply
    • Terima kasih udah baca Pak Anas

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>