CINTA, KELUARGA DAN THE GODFATHER

Kasus penelantaran anak oleh sepasang suami istri di Cibubur mengingatkan saya pada sekuel film The Godfather. Salah satu film legendaris karya sutradara kontroversial Hollywood, Francis Ford Coppola, yang diangkat dari novel laris karya Mario Puzo berjudul sama.

Kalau banyak perempuan termehek-mehek dengan film romantis semodel Titanic atau Kuch Kuch Hota Hai (atau mungkin sekarang film-film pop Korea), maka belum ada film yang dapat membuat kaum lelaki termehek-mehek melebihi The Godfther I, II, III.

Film ini tentang kuasa, harta dan –tentu saja—wanita. Tema yang sangat lelaki. Di dalamnya ada cerita tentang pengkhianatan versus kesetiaan, dendam melawan kasih sayang, idealisme dan keserakahan, dengan bumbu dar-der-dor ala kaum mafia Amerika keturunan Italia di awal abad 20.

Tetapi, berbeda dengan film hollywood kebanyakan, tidak ada hero dalam film yang kini menjadi klasik ini. Sebab antara kebenaran dan kesalahan sangatlah sumir dan abu-abu. Tergantung siapa yang lebih kuasa dan punya akses terhadap senjata.

Dan, menariknya, justru yang diingat banyak kaum pria dari film ini bukanlah soal dar-der-dor nya. Atau intrik dan konflik yang melatarinya.  Apalagi adegan pornografi vulgarnya (dalam film  ini nyaris tidak ada adegan vulgar khas Hollywood). Yang  diingat para lelaki justru pesan moralnya.

Dan inilah pesan moral dari film tentang para mafia ini; ”Lelaki sejati adalah lelaki yang menjaga dan melindungi keluarganya  dengan sebaik-baiknya, dengan ongkos apapun yang dibutuhkan untuk itu”.

Dikisahkan dalam film itu, Vito Corleone (diperankan dengan sangat epik oleh Marlon Brando dan Robert De Niro), seorang imigran Amerika asal Sisilia membangun kejayaan bisnisnya diatas penghormatan dan cinta terhadap keluarga dan leluhurnya, pada saat yang sama dengan menistakan dan menghancurkan musuh dan pengkhianat keluarganya.

Vito seorang kepala mafia yang kharismatis. Dia dipuja dan dicintai seluruh keluarga besarnya.  Tapi pada saat yang sama menjadi incaran balas dendam dari keluarga mafia lain, yang anggotanya pernah dinistakan atau dibunuh olehnya.

Generasi kedua keluarga mafia itu dipegang oleh Michael Corleone (Diperankan dengan monumental oleh Al Pacino). Dialah yang sesungguhnya menjadi pusat cerita dari tiga seri The Godfather ini.

Berbeda dengan ayahnya yang hangat dan penuh cinta dengan keluarga besarnya, Michael seorang yang keras hati dan sangat dingin. Situasi yang membentuknya demikian.

Dia yang awalnya tidak pernah diperhitungkan, diperlakukan hanya sebagai anak bungsu yang manis dan dianggap tidak mewarisi kharisma seorang anggota keluarga mafia, justru keluar sebagai sosok Don (Kepala Keluarga Mafia) baru yang lebih “gahar” sekaligus sebagai penyelamat bisnis keluarga ini.

Demikian dinginnya hati Michael bahkan dia tega mengeksekusi Fredo, salah seorang kakak kandungnya, yang dianggapnya bersekutu dengan musuh keluarga, tidak lama setelah ibunya meninggal. Dia sempat menunda melakukan eksekusi itu hanya semata-mata menghormati ibunya.

Lagi-lagi, tindakan itu dia lakukan atas nama “menjaga dan melindungi keluarga”. Atas nama cinta.

Alasan ini juga yang banyak orang gunakan untuk memberikan apapun yang terbaik untuk keluarga, khususnya untuk anak-anak dan masa depan mereka.  Atas nama cinta kita berikan sesuatu yang –seringkali—tidak mereka butuhkan bahkan menyiksa mereka.

Kita lupa bahwa –seperti kata Kahlil Gibran—mereka bukanlah “milik” dalam arti properti yang bisa kita perlakukan sekehendak nafsu kita, melainkan putra-putri masa depan yang memiliki jiwa sendiri. Jiwanya itu seringkali berbeda dengan jiwa kita –orang tuanya—yang merupakan produk masa lalu.

Kita bisa memberi rumah dan baju untuk badannya, tetapi sering kita lupa untuk menyiapkan rumah dan baju untuk jiwanya. Kalaupun kita siapkan tetapi dengan cara pandang kita yang bias dengan masa lalu.

Kahlil Gibran, penulis dan penyair mistis Lebanon itu terang-terang mengatakan kita tidak bisa memberi rumah untuk jiwa mereka. Sebab jiwa mereka –kata sang penyair—milik masa depan.

Saya pribadi berpendapat kita bisa menyiapkan  (bukan memberikan) rumah untuk jiwa mereka. Tentu dengan sebuah kesadaran penuh untuk selalu minta petunjuk pada penguasa tertinggi dan mutlak atas setiap jiwa, yaitu Zat Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa.

Kita bisa menjadi  lahan yang subur dan habitat yang baik untuk setiap benih yang dititipkan ke dalam keluarga kita. Kita bisa memeluk benih itu dengan tingkat kehangatan yang pas yang membuat dia tak perlu mencari kehangatan di luar. Kita berikan nutrisi dan pupuk yang cukup untuk akar-akar karakternya tumbuh kuat menghujam ke dalam bumi. Pada saat yang sama kita juga bisa menjadi petani yang sigap mencabut gulma-gulma yang akan mensabotase pertumbuhan jiwanya.

Caranya tentu bisa berbeda-beda, tetapi biasanya dengan kesadaran yang sama: bahwa semua proses itu bukan tentang egosentrisme dan narsisme orang tuanya. Tetapi semua tentang anak-anak dan masa depan mereka.  Oleh karena itu, dalam pengamatan saya terhadap orang tua-orang tua hebat, mereka selalu berendah hati untuk belajar banyak dan tak segan untuk mengakui kekeliruannya dengan tulus. Bahkan terhadap anak-anaknya.

Seorang guru bercerita, pada masanya dia dan istrinya pernah mengalami “kesulitan” menghadapi salah seorang anak lelakinya. Anak itu pemberontak, nakal, malas sekolah dan pembuat masalah. Semakin dia ingin merubah anak itu untuk menjadi baik –sebagaimana yang dia inginkan—semakin anak itu “sulit” dan “memberontak”.  Segala cara dia lakukan dan semuanya mentah belaka.

Sampai kemudian dia merasa cara pandangnyalah yang salah. Dia ingin “memberi rumah” bagi jiwa sang anak dan sang anak menolak. Dia mulai mencoba memahami sang anak, lebih banyak menghabiskan waktu untuk mendengar daripada menasihati dan mengomeli, menyadarkan dirinya bahwa dia hanya menjadi lahan untuk tempat tumbuh bukan untuk membentuk ke arah mana proses tumbuh itu.

Sejak itu sang anak berubah. Dia kemudian menjadi anak yang mulai rajin sekolah, berprestasi di luar dan di dalam sekolah bahkan –sebagaimana ayahnya—menjadi seorang penulis dan pemikir hebat.

Dalam cerita yang lain, seorang teman berbagi kisah tentang seorang ibu pegawai rendahan di kantornya yang keempat orang anaknya sukses menjadi dokter, lulus dari Perguruan Tinggi Negeri di kotanya. Padahal di lihat dari latar belakang pendidikan si Ibu yang cuma lulusan sekolah menengah di tambah dengan penghasilannya yang terbatas, rasanya sulit  membayangkan keberhasilan seperti itu. Sementara banyak orang tua yang lebih pintar dan mampu secara finansial tidak sesukses si Ibu itu.

Selidik punya selidik ternyata rahasianya ada pada bagaimana sang Ibu membangun komunikasi dengan keempat anaknya. Setiap hari di tengah kesibukan apapun selalu ada waktu khusus untuk si Ibu berkomunikasi dengan setiap anaknya. Komunikasi yang dimaksud adalah sekedar berbagi cerita, mendengarkan keluh kesah mereka di sekolah,  curhat mereka tentang persoalan dan masalah sehari-hari keempat anaknya.  Dalam komunikasi itu si Ibu lebih banyak mendengar. Sesekali ada nasihat apabila dibutuhkan. Tetapi lebih banyaknya menyimak dan mendengar.

Kebiasaan itu rupanya menjadi nutrisi dan pupuk yang membuat jiwa dan pikiran anak-anaknya tumbuh dengan sehat dan cemerlang. Mereka menemukan rumah untuk jiwa masa depan mereka dalam sebuah proses komunikasi yang intim dengan sang Ibu.

Demikianlah.

Kalau kembali ke film Godfather di atas, sebetulnya ada pelajaran moral abadi tentang bagaimana sebaiknya mengekspresikan cinta kepada keluarga, khususnya untuk kaum lelaki.

Kata Vito Corleone, ayahnya Michael;  A Man who doesn’t spend time  with his family can never be a real man.  Meski dia seorang kepala mafia yang sangat berkuasa, Don Vito lebih suka menghabiskan waktunya dengan keluarga, dengan anak dan cucunya. Berbincang dan bercengkerama dengan mereka.

Dalam film, Don Vito meninggal di tengah cinta keluarga. Dia menghembuskan nafas terakhir saat menemani cucunya bermain.

Berbeda dengan Michael,  yang meski dengan alasan yang sama, tetapi lebih fokus untuk membesarkan bisnis dan menghabisi musuh-musuhnya.

Michael memang berhasil menjaga bisnis keluarganya dari kehancuran akibat pengkhianatan. Bahkan semakin besar dan menggurita hingga berhasil menguasai dan mempengaruhi keputusan pemerintah, bukan hanya di Amerika bahkan di seluruh penjuru dunia.

Tetapi itu dia tebus dengan banyak kehilangan. Dia kehilangan istri dan cinta pertamanya karena dibunuh. Dia juga kehilangan istri keduanya karena perceraian akibat tidak tahan dengan kehidupan ala  mafia yang seperti penjara. Klimaksya, dia kehilangan anak gadisnya yang dia banggakan dan digadang-gadang akan meneruskan bisnisnya, karena rentetan dendam dan pembunuhan yang tidak pernah selesai dari masa lalu.

Dia mendapatkan banyak hal dengan kehilangan lebih banyak lagi.

Di akhir cerita, pada seri terakhir film itu, Michael meninggal sendirian.  Tak ada teman dan keluarga yang menemaninya. Teman dan keluarga yang dijaga dan dilindunginya dengan biaya apapun sepanjang hidupnya.

Hanya ada anjing kecil yang menemaninya.

1 Comment

  1. Saya mungkin seperti anda, suka pada kisah Godfather 1, 2, 3, juga termasuk karakter kuat para personalnya, terutama Vito yg saya anggap luar biasa, penguasa yg sangat berhati-hati dlm sikap, sabar, dan cinta keluarga, walaupun di lain sisi dia adalah seorang Don.

    Saya juga suka buku-buku Chalil Gibran, yg mengulas secara dalam hal-hal yg kelihatan biasa dlm keseharian.

    Ada juga buku-buku karya Mario Puzo yg senada, tapi menurut saya yg paling menarik adalah Godfather. Tentu saja ketika dibuat film, tak lepas sentuhan dari Francis Ford Coppola yg pinter memilih para pemain watak yg pas sehingga film lebih menyentuh secara kemanusiaan dari pada sekedar film hollywood.

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>